MEDAN – Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan kembali menegaskan peran sosialnya melalui kegiatan Safari Ramadhan yang digelar di Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas I Medan pada Selasa, 3 Maret 2026. Agenda ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum penguatan kerja sama strategis dalam pembinaan karakter warga binaan.
Sinergi Akademik dan Pemasyarakatan
Mewakili Rektor Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag., rombongan pimpinan universitas hadir dengan formasi lengkap, dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof. Dr. Katimin, M.Ag., dan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Prof. Dr. Muzakkir, M.Ag. Kehadiran jajaran dekanat dan direktur pascasarjana ini menandai keseriusan UINSU dalam mendukung fungsi pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.



Puncak formalitas acara ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Agreement/MoA) antara sejumlah fakultas UINSU Medan dengan pihak Rutan. Perjanjian ini merupakan langkah konkret tindak lanjut kerja sama dengan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mencakup ranah pendidikan, pembinaan mental, hingga pengabdian masyarakat.
Transformasi Paradigma: Rutan sebagai “Madrasah”
Kepala Rutan Kelas I Medan, Andi Surya, Amd.IP., S.H., M.H., menyambut hangat konsistensi UINSU dalam mendampingi warga binaan. Ia menekankan bahwa dukungan akademisi sangat krusial agar program pembinaan tidak berhenti pada seremoni, melainkan mampu membekali warga binaan untuk siap kembali ke masyarakat dengan integritas baru.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Muzakkir dalam tausiahnya memperkenalkan konsep “Madrasah Jiwa”. Ia mengajak warga binaan untuk mengubah cara pandang terhadap masa tahanan.
“Jangan melihat tempat ini sekadar sebagai ruang hukuman, tetapi jadikanlah ia ruang pembelajaran spiritual untuk menemukan kembali jati diri di hadapan Sang Pencipta,” tegas Prof. Muzakkir.


Tiga Pilar Perubahan Karakter
Dalam pesan spiritualnya, Prof. Muzakkir menekankan tiga syarat fundamental bagi setiap individu yang ingin melakukan perbaikan hidup atau bertaubat:
- Penyesalan Mendalam: Menumbuhkan kesadaran hati atas kekeliruan masa lalu.
- Aksi Segera: Berhenti dari perbuatan negatif tanpa menunda-nunda.
- Istiqomah: Memiliki tekad baja untuk tidak mengulangi kesalahan di masa depan.
Beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melakukan “revolusi diri” melalui zikir dan amal kebaikan, karena kualitas hidup manusia seringkali dinilai dari bagaimana ia mengakhiri perjalanannya.
Komitmen Keberlanjutan
Acara ditutup dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol komitmen kolektif antara kedua institusi. Melalui Safari Ramadhan ini, UINSU Medan membuktikan bahwa dakwah dan edukasi tidak mengenal batas dinding; setiap ruang—termasuk di balik jeruji besi—memiliki potensi untuk menjadi tempat lahirnya pribadi yang lebih mulia.


