BINJAI – Mengapa remaja putri perlu peduli pada stunting, padahal mereka belum menjadi ibu? Pertanyaan itu menjadi titik berangkat program pengabdian masyarakat tim Program Studi Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) di MAS Aisyiyah Kota Binjai sejak Agustus 2026. Program yang diketuai Rani Suraya, M.K.M. ini melatih sejumlah siswi menjadi kader gizi sebaya yang menyampaikan materi gizi kepada teman sekelasnya dengan bahasa yang akrab dan tidak menggurui.
Stunting selama ini identik dengan balita, padahal akarnya bisa dilacak jauh sebelum kehamilan. Remaja putri yang mengalami anemia lebih berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, salah satu pintu masuk stunting. Di lapangan, tim menemukan sebagian besar peserta belum terbiasa sarapan, dan hanya sekitar seperempat yang rutin minum Tablet Tambah Darah (TTD) meski tablet itu sudah dibagikan sekolah. Alasannya beragam: tidak suka rasa dan baunya, sering lupa, dan belum memahami manfaatnya.
Para siswi mengaku lebih nyaman menerima informasi kesehatan dari teman sebaya ketimbang ceramah formal. Karena itu, kader dipilih dari siswi kelas X dan XI yang komunikatif, aktif di OSIS atau PMR, dan direkomendasikan guru Bimbingan Konseling. Setelah pelatihan dua hari, kader memfasilitasi enam sesi edukasi: menyusun menu “Isi Piringku” lewat permainan, mengenali tanda anemia 5L (lemah, letih, lesu, lelah, lalai), hingga membaca label kemasan pangan. Materi yang paling mengejutkan peserta justru sederhana: teh dan kopi menghambat penyerapan zat besi, sedangkan makanan kaya vitamin C membantunya.
Ciri khas program ini terletak pada pendekatan nilai thayyiban. Dalam ajaran Islam, makanan tidak cukup halal, tetapi juga harus thayyib, yaitu baik, bersih, dan menyehatkan. Didampingi guru Pendidikan Agama Islam, peserta diajak melihat bahwa memilih makanan bergizi adalah cara menjaga diri sekaligus menjaga kualitas generasi berikutnya.
Pengukuran sebelum dan sesudah program menunjukkan pengetahuan dan sikap gizi peserta meningkat, melampaui target yang ditetapkan, dan hampir semua peserta hadir di setiap sesi. Peningkatan tertinggi justru terjadi pada materi yang memadukan gizi dengan nilai keagamaan. Pendekatan nilai ternyata tidak mengaburkan materi ilmiah, malah membantu peserta memahaminya. Perubahan juga tampak dalam peningkatan pemahaman siswa, seperti pemahaman pentingnya membiasakan sarapan, mengonsumsi sayur dan buah, mengurangi jajanan kemasan, dan kepatuhan minum TTD. Para kader sendiri juga merasa lebih percaya diri berbicara di depan teman-temannya.
Program ini meninggalkan modul edukasi gizi berbasis thayyiban yang sudah divalidasi ahli gizi dan guru. Tim menyarankan peran kader dilembagakan melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan orang tua dilibatkan agar kebiasaan baik berlanjut di rumah. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang menunjukkan bahwa pencegahan stunting bisa dimulai dari ruang kelas, oleh para remaja sendiri, dengan cara yang dekat dengan nilai yang mereka pegang.
