MEDAN – Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), resmi merampungkan program pengabdian bertajuk “NGAJI” (Ngabdi di Balik Jeruji). Inisiatif yang menghadirkan para akademisi dan pemuka agama ini sukses menjangkau warga binaan di 15 titik Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) di seluruh wilayah Sumatera Utara.

Misi Restorasi Mental dari Rajab hingga Sya’ban, Program yang berlangsung sepanjang bulan Rajab hingga Sya’ban 1447 Hijriyah ini menutup rangkaian kegiatannya di Lapas Kelas II Rantau Parapat pada 14 Februari 2026. Penutupan tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Lapas, Khairul Siregar, dengan tausiah pemungkas yang disampaikan oleh Al Ustaz Dr. Adi Sucipto, MA.
Ke-15 lokasi yang menjadi sasaran program ini mencakup wilayah strategis, mulai dari Rutan Tanjung Pura, Lapas Binjai, Lapas Tanjung Gusta (Medan), hingga menjangkau daerah seperti Kabanjahe, Dairi, Pangkalan Berandan, dan Rantau Parapat.
Sinergi Lintas Sektoral dan Dampak Nyata, Ketua LP2M UINSU, Prof. Dr. Nispul Khoiri, yang bertindak sebagai penanggung jawab kegiatan, memberikan apresiasi tinggi kepada jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemimpas) Sumatera Utara.
“Kami berterima kasih atas sambutan luar biasa dari pihak Kanwil, kepala lapas, hingga petugas di lapangan. Namun, apresiasi terbesar adalah untuk warga binaan yang menerima program ini dengan tangan terbuka dan antusiasme tinggi,” ujar Prof. Nispul dalam keterangannya di Medan, Jumat (20/02/2026).
Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan penuh Rektor UINSU serta dedikasi Dr. Adi Sucipto, M.Ag selaku koordinator, bersama para guru besar dan dosen yang terjun langsung sebagai penceramah.
Lebih dari Sekadar Ceramah: Menanam Harapan, Berdasarkan testimoni dari pihak Lapas dan warga binaan, program NGAJI dirasakan memberikan dampak psikologis dan spiritual yang signifikan, di antaranya:
- Penguatan Spiritual: Meningkatkan kesadaran beragama di lingkungan pemasyarakatan.
- Kesehatan Mental: Menjadi medium pengurangan stres dan peningkatan motivasi hidup.
- Transformasi Karakter: Membentuk kepribadian yang lebih positif sebagai bekal reintegrasi ke masyarakat.
- Literasi Keagamaan: Memperluas cakrawala pengetahuan warga binaan melalui diskusi interaktif.
Melihat respons positif tersebut, pihak otoritas Lapas dan warga binaan berharap program ini tidak berhenti sebagai kegiatan musiman, melainkan menjadi agenda berkelanjutan yang mampu memberikan pencerahan jangka panjang di balik jeruji besi.
